Pages

Friday, January 19, 2007

Politik Demi Kesejahteraan Rakyat


Komentar Mayjen TNI (Purn) Basofi Sudirman tentang politik di Indonesia, dalam diskusi di Kantor Redaksi Surya, patut dicermati. Menurutnya, mulai Orla, Orba, sampai sekarang, politik yang dibicarakan hanya politik membangun kekuasaan. Hal ini sudah menjadi watak, bukan watuk (batuk). Watuk bisa diobati, kalau watak tidak. Ia menambahkan, meskipun pemilu sudah selesai, masih saja ingin membangun kekuatan kekuasaan (Surya, 17/1/2007).

Sebagai contoh, ketika rakyat menjerit menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, para wakil rakyat justru sibuk mengusulkan kenaikan gaji dan menuntut fasilitas yang lebih baik bagi diri sendiri. Ketika keprihatinan bangsa ini terarah pada masalah pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme, orang belajar dari media massa, justru KKN itu sekarang semakin parah dilakukan oleh orang-orang yang dulu berteriak berantas KKN. Ketika bangsa ini sedang prihatin mempertanyakan masa depan anak-anak mereka, para politikus sibuk berebut lahan basah dan menjajaki kemungkinan aliansi atau membentuk kaukus untuk menyiapkan masa depan kemenangan partai masing-masing. Ketika para pencuri ayam, dan para penjahat kelas teri tewas di tangan massa, para koruptor kelas kakap, konglomerat pengemplang uang negara, dan provokator pengadu domba rakyat dibiarkan hidup tenang menikmati hasil kejahatan mereka. Kriminalitas rakyat kecil digunakan untuk menutupi ilegalisme penguasa.

Maka, komentar mantan Gubernur Jatim tersebut bisa diartikan sebagai ungkapan kekecewaan sekaligus sebuah peringatan untuk menafsir ulang kembali makna politik. Ungkapan kekecewaan tersebut dilatarbelakangi sebuah pemahaman, bahwa politik sebenarnya bukan pertama-tama untuk membangun kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Makna politik yang asali harus dikembalikan, yaitu politik seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Realitas Politik

Selama ini politik menjadi isu yang marak diperbincangkan. Masalah politik lebih mendominasi dan seakan-akan masalah politik sajalah persoalan terpenting dalam hidup berbangsa. Perhatian sebagian besar masyarakat disedot untuk masalah-masalah politik. Bahkan ada penilaian negatif, politik sudah menjadi salah satu mata pencaharian dan sumber nafkah. Makna politik tidak lagi dipahami sebagai persoalan distribusi kekuasaan yang salah satu agendanya menciptakan kesejahteraan rakyat.

Rakyat bisa menilai bahwa para elite politik kita sebenarnya tidak memahami substansi politik. Politik dipahami hanya sebagai ajang meraih tangga kekuasaan dan jabatan belaka. Pendapat yang muncul di kalangan masyarakat pun negative. Politik itu kotor, politik itu penuh kekerasan, politik itu ajang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak lain disebabkan oleh oknum-oknum pelaku politik yang menyalahgunakan dunia politik demi kepentingan sendiri.

Realitas politik justru menjadi realitas yang tidak sehat di masyarakat. Sering praktek yang ada menunjukkan bahwa partai-partai politik yang ada memiliki tingkat keserakahan dan korupsi yang tidak bisa lagi ditoleransi, pula pelaku politik yang memiliki track record yang buruk.

Sebagai contoh, negara lebih boros membiayai kepentingan-kepentingan lembaga politik, untuk gaji anggota DPR dan iuran partai politik, tetapi sangat pelit untuk menaikkan gaji guru. Kalau untuk membayar anggota DPR, negara seperti berlimpah uang, tetapi untuk gaji guru selalu mengeluh kekurangan uang. Alokasi anggaran pendidikan 20% dari APBN tidak terwujud. Tampak jelas bahwa, politik anggaran dan politik kesejahteraan tidak saling menunjang. Kesejahteraan selalu dikalahkan politik anggaran. Sementara itu, korupsi dan kebocoran APBN terjadi di mana-mana.

Ada berbagai produk hukum yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sebagai contoh, PP No. 37/2006, tentang tunjangan komunikasi dan dana operasional kepada legislatif yang dinilai banyak kalangan sangat memberatkan anggaran daerah. Selain itu, penolakan peraturan pemerintah tersebut akan mengerogoti belanja untuk rakyat, membuka peluang terjadinya korupsi dan perampasan uang rakyat secara legal oleh para anggota DPRD, merusak distribusi belanja daerah yang diamanatkan dalam UU No. 32/2004, yang hendak meningkatkan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta pengembangan sistem jaminan sosial. Jelaslah bahwa pemberian tunjangan tersebut tidak pantas dengan kondisi masyarakat sekarang.

Di masa lalu, reaksi keras kaum buruh berkaitan dengan revisi UU No 13/2003 tentang ketenagakerjaan, mengingatkan wakil rakyat untuk memikirkan kesejahteraan buruh. Protes kalangan pendidikan muncul berkaitan dengan pemberlakuan UU No. 14/2005 yang mengatur masalah penghasilan, karena para guru dan dosen pun belum mendapat penghasilan sebagaimana mestinya. Saat ini nasib guru masih jauh di bawah standar, terutama guru bantu dan guru tidak tetap.

Buruknya realitas politik, menunjukkan dari kuatnya posisi birokrasi dalam sistem dan proses politik. Hal ini terjadi akibat tumbuhnya persepsi bahwa pembangunan adalah prakarsa pemerintah (state sponsored). Salah satu wujud dari persepsi itu dalam pembangunan politik adalah munculnya pembinaan hubungan patron-client antara negara dengan masyarakat. Budaya patron-client ini juga tumbuh di kalangan pelaku politik. Mereka lebih memilih mencari sponsor dari atas, daripada menggali dukungan dari basisnya. Akibatnya, kesejahteraan rakyat terabaikan.

Politik Kesejahteraan

Dari sudut pandang filsafat politik, berdasarkan realitas politik yang sedemikian memprihatinkan itu maka perlu pengambilan jarak dan kritis terhadap realitas politik. Artinya perlu sebuah perspektif tertentu dan pengujian nilai-nilai, termasuk nilai-nilai moral serta perlu suatu ideal yang melibatkan suatu konsepsi tentang manusia dan kesejahteraannya.

Politik yang maknanya dipersempit hanya untuk kekuasaan terjadi ketika ruang publik direduksi menjadi pasar. Ketika tekanan adalah hasil, maka ekonomi menjadi perhatian utama. Penyelenggaraan negara direduksi menjadi manajemen kepentingan kelompok-kelompok tertentu atau individu-individu tertentu. Akibatnya, politik menjadi arena untuk mempertaruhkan kepentingan kelompok dan pribadi serta untuk mendapatkan pengakuan. Politik bukan lagi seperti dikatakan Hannah Arendt sebagai seni untuk mengabadikan diri dengan menjamin kebebasan setiap individu dan mengupayakan kesejahteraan bersama serta keadilan.

Penyempitan makna itu terjadi juga dalam lingkup etika politik. Bila pluralitas ditolak dan diskriminasi dipraktekkan maka bertentangan dengan etika politik. Paul Ricoeur mendefinisikan etika politik sebagai hidup baik bersama dan demi orang lain untuk semakin memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil. Pendekatan pragmatisme yang menjadi ideologi teknokrasi cenderung mengabaikan proses partisipasi dan prosedur parlementer yang menjadi tulang punggung demokrasi.

Tuntutan pertama politik adalah hidup baik bersama dan untuk orang lain. Pada tingkat ini, politik dipahami sebagai perwujudan sikap dan perilaku politikus atau warganegara demi kesejahteraan dan kebaikan bersama. Politikus yang baik adalah jujur, santun, memiliki integritas, menghargai orang lain, menerima pluralitas, memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum, dan tidak mementingkan kekuasaanya. Jadi, politikus yang menjalankan etika politik adalah negarawan yang mempunyai keutamaan-keutamaan moral.

Eric Weil mengatakan, politik merupakan suatu gerak yang berangkat dari moral dan melampauinya dalam suatu teori tentang negara Tentu saja politik bukan seperti yang dipahami politikus, tetapi bagi orang yang mencoba mencari makna di dalam politik. Maka politik beranjak dari moral. Cara pandang moral ini harus mengakar dalam cara pandang politikus yang diorganisir oleh negara agar bisa diterjemahkan dalam relitas politik.

Dengan demikian, semua gerak yang berangkat dari moral harus membawa kepada pernyataan berikut ini: Negara adalah organisasi suatu komunitas yang menyejarah, dengan diorganisir dalam bentuk negara, komunitas itu mampu mengambil keputusan-keputusannya. Moral sebagai titik tolak politik menjadi penting karena politik akan mengetuk nurani. Orang-orang yang mampu memasuki dimensi moral dalam kehidupannya akan menyesuaikan dengan etika politik dalam praktik-praktik politik.

Penutup

Saat ini, banyak orang pesimis dengan realitas politik yang ada. Teriakan yang muncul seakan-akan: politik yang baik itu omong kosong. Realitas politik adalah pertarungan kekuatan dan kepentingan. Politik dibangun bukan dari yang ideal, tidak tunduk kepada apa yang seharusnya. Dalam politik, kecenderungan umum adalah tujuan menghalalkan segala cara. Dalam konteks ini, politik demi kesejahteraan seolah-olah hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Terbukti bahwa realitas politik yang terjadi di negara ini sangat memprihatinkan. Karena itu perbaikan politik menyangkut tiga tuntutan, ialah upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain, upaya memperluas lingkup kebebasan dan membangun membangun institusi-institusi yang adil. Tiga tuntutan itu saling terkait. hidup baik bersama dan untuk orang lain tidak mungkin terwujud kecuali bila menerima pluralitas dan dalam kerangka institusi-institusi yang adil. Hidup baik tidak lain adalah cita-cita kebebasan: kesempurnaan eksistensi atau pencapaian keutamaan. Institusi-institusi yang adil memungkinkan perwujudan kebebasan dengan menghindarkan warganegara atau kelompok-kelompok dari saling merugikan. Sebaliknya, kebebasan warganegara mendorong inisiatif dan sikap kritis terhadap institusi-institusi yang tidak adil. Pengertian kebebasan yang terakhir ini yang dimaksud adalah syarat fisik, sosial, dan politik yang perlu demi pelaksanaan kongkret kebebasan, berupa democratic liberties seperti: kebebasan pers, kebebasan berserikat dan berkumpul dan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Salah satu hal yang sangat penting ialah politik, politikus dan produk politik harus ditujukan demi kesejahteraan bersama, utamanya demi mereka yang paling tidak beruntung; Politik perlu dimengerti sebagai kontrol penggunaan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, mobilisasi sumber-sumber daya dan pewujudan berbagai tujuan kolektif. Politik dengan segala distribusi jabatan, pengambilan keputusan, undang-undang, dan partisipasi warga negara dalam pengambilan keputusan perlu diarahkan demi kesejahteraan bersama. (Surya, 19 Januari 2007)

Tuesday, January 09, 2007

Iman Dan Peduli Lingkungan


Krisis lingkungan mengancam bumi kita. Iman memiliki tanggung jawab terhadap dunia dan hak-hak yang luhur dengan memperhatikan hubungan dengan Pencipta dan dukungan Tuhan demi kelangsungan lingkungan hidup dengan kepedulian cinta. Manusia patut merefleksikan bagaimana keIllahian, keindahan dan kesatuan alam sesungguhnya menampilkan kebijaksanaan Illahi dan kemuliaanNya. Lewat Kitab Suci, manusia mendengarkan panggilan baru untuk menjaga dunia dan menegakkan keadilan terutama bagi kaum miskin dan yang jadi korban kerusakan lingkungan.

Jawaban terhadap pertanyaan dasar mengenai keprihatinan religius terhadap lingkungan disajikan dalam pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini.

Mengapa kaum beragama terlibat dalam isu lingkungan ?
Dalam hal ini, krisis lingkungan merupakan tantangan moral. Situasi ini memanggil setiap orang untuk menguji bagaimana kita menggunakan kebaikan bagi dunia, apa yang kita akan lakukan untuk generasi mendatang, dan bagaimana kita hidup dalam harmoni dengan ciptaan Tuhan lainnya. Krisis ekologi global saat ini telah mengundang keprihatinan siapapun, ilmuwan, pemimpin politik, urusan bisnis, pekerja, pengacara, petani, wartawan dan warga manusia pada umumnya. Sebagai guru moral, kita patut mengintensikan menyajikan dimensi moral dan etis dari isu lingkungan ini

Apa yang Tuhan lakukan terhadap lingkungan ciptaan ?
Tuhan, sumber dari segala ini, tampak secara aktif dalam semua ciptaan, Tuhan juga peduli terhadap semua ciptaan. Kita harus peduli terhadap dunia tanpa mengabaikan Tuhan yang kita puji. Kita percaya bahwa iman, kebaikan dan cinta Tuhan merupakan sumber yang memotivasi dan menarik bagi semua ciptaan. Tumbuhan dan binatang, gunung dan laut, mengangkat jiwa kita kepada Tuhan, dengan kerapuhan dan kelemahan yang terungkap, “Kami tidak mampu membuat semuanya itu dari diri kami sendiri”. Tuhan menciptakan segala yang hidup untuk ada dan saling memelihara kelestarian keberadaan ciptaanNya.

Bagaimana Katolik memandang alam semesta ?
Tanggung jawab Katolik terhadap lingkungan dimulai dengan apresiasi terhadap kebaikan ciptaan Tuhan. Pada awal mula, “Tuhan melihat bahwa segala yang dibuatnya, adalah baik adanya (Kej 1:31). Surga dan bumi, matahari dan bulan, daratan dan lautan, ikan dan burung, binatang dan manusia – adalah baik adanya. Kebijaksanaan dan kekuatan Tuhan ditampakkan dalam setiap aspek ciptaan (Proverbs 8:22-31). Tidak ada keraguan bahwa umat Tuhan yang dipenuhi dengan semangat spiritual, mmereka dipanggil sebagai ciptaan untuk bergabung memuji kebaikan Tuhan (Dan 3:74-81). Bumi, sesuai petunjuk Kitab Suci, merupakan hadiah kepada seluruh ciptaan untuk “seluruh mahluk hidup yang ada di dunia (Kej 9:16-17).

Apa itu tempat yang layak dan aturan untuk mahluk hidup di dunia ?
Manusia ada bersama di dunia dengan ciptaan yang lain. Tetapi manusia, dibuat seturut citra dan seperti Tuhan, dipanggil dalam bentuk khusus untuk “memelihara dan memperhatikannya” (Kej 2: 15). Laki-laki dan perempuan, karena itu, memiliki tanggung jawab khusus di hadapan Tuhan: untuk menjaga ciptaan di dunia. Pula segala upaya kreatif manusia mestinya mengembangkan dunia. Menjaga ciptaan berarti harus hidup dengan penuh tanggung jawab di dunia. Keluarga dilengkapi dengan keindahan, keIllahian dan kesatuan dengan alam, juga dengan keharusan untuk berproduksi. Bagaimanapun, Tuhan sendiri berkuasa mengatasi bumi. “Tuhan merupakan wujud bumi dan segala isinya, dunia dan segala yang ada di dalamnya (Mzm 24:1). Sebagaimana di masa Nuh, manusia bertanggung jawab untuk menlanjutkan seluruh ciptaan untuk memenuhi maksud Tuhan. Setelah banjir menerpa, Tuhan membuat janji terakhir dengan Nuh, dengan keturunannya dan setiap mahluk hidup”. Jadi manusia yang hidup di bumi tak bisa seenaknya, karena itu haruslah berbuat apapun di bumi dengan sebaik-baiknya.

Mengapa terjadi kerusakan lingkungan ?
Adam dan hawa memberi pelajaran tentang sikap mereka ketika hidup di dunia (Kej 1:28) ialah seharusnya dengan penuh kebijaksanaan dan cinta. Sebaliknya, mereka menghancuran keberadaan harmoni. Dengan kebebasannya mereka justru melawan rencana Tuhan, yaitu dengan memilih berbuat dosa. Hasilnya, tidak hanya keterasingan manusia dengan dirinya sendiri, dalam kematian dan penderitaan, tetapi juga pemberontakan bumi terhadap manusia sendiri (Kej 3:17-19; 4:12). Saat manusia kembali kepada rencana Tuhan, manusia digerakkan oleh kehendak yang baik untuk kembali menata lingkungan. Jika manusia tidak berdamai dengan Allah, maka di bumi sendiri tidak akan ada damai: "Sebab negeri ini akan berkabung, dan seluruh penduduknya akan merana, juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, bahkan ikan-ikan di laut akan mati lenyap. " (Hos 4:3).

Adakah harapan yang baik bagi bumi ?
Sebuah masyarakat yang adil dan berkelanjutan bukanlah sebuah itensi yang ideal, tetapi sebuah kebutuhan yang mendesak sesuai tuntutan moral dan praktis. Tanpa keadilan, ekonomi yang berkelanjtan tak akan pernah dicapai. Tanpa sebuah tanggung jawab ekologi terhadap dunia ekonomi yang adil tak akan terwujud. Untuk mencapai itu sungguh merupakan pekerjaan yang mutlak, bersama-sama kita akan mengupayakannya. Tetapi segala sesuatu akan mungkin, bagi mereka yang berharap kepada Tuhan (Mrk 10:27). Harapan, merupakan keutamaan hati yang penting dalam etika lingkungan hidup orang Kristiani. Harapan akan memberi keberanian, arah dan kekuatan. Penyelamatan bumi akan menghasilkan komitmen yang kudus. Hal ini termasuk kehendak baik untuk merevisi kembali kebiasaan politik kita, merestrukturisasi lembaga ekonomi, membentuk lagi masyarakat dan merawat komunitas global. Hanya dengan harapan manusia dapat mencapai kebaikan, karena manusia bagian dari ciptaan. Sehingga di masa kini Roh Kudus menghembuskan cara hidup baru kepada seluruh ciptaan di bumi. Hari ini kita berdoa dengan cara baru dan penuh perhatian kepada ciptaan Tuhan: “Utuslah Roh KudusMu dan baharuilah seluruh muka bumi”

Apa yang harus kita lakukan ?
Krisis lingkungan di masa menbawakan panggilan bagi siapapun tak terkecuali untuk bertobat. Sebagai individu, sebagai manusia, kita menginginkan perubahan hati untuk menyelamatkan bumi bagi anak-anak kita dan generasi kelak yang akan lahir. Sangatlah pelik masalah ini, berkaitan dengan ekonomi dan gaya hidup. Tak terkecuali bagi semua hati dan setiap mereka yang menemukan Tuhan, seharusnya mengikuti untuk menebarkan tanggung jawab sebagai bentuk ketaatan ciptaan kepada TuhanNya. Mereka yang percaya dan yang melihat nilai-nilai dalam Kitab Suci, dan secara jujur mengakui keterbatasan dan kesalahannya akan memiliki komitmen dari dirinya sendiri untuk bertindak mengatasi kerusakan bumi dan akan siap untuk berpartisipasi secara penuh, memecahkan masalah ini.

Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan, pemecahan yang dilakukan tidak didasarkan dari agenda politik, dari aliran kiri atau kanan, tetapi ajaran paling dasar mengenai Tuhan, kemanusiaan dan seluruh ciptaan. Tradisi religius telah menampilkan beberapa ajaran dan sikap mengenai hal itu:

- Bumi sesungguhnya miliki Tuhan sendiri
- Ciptaan adalah baik adanya, berharga, serta diperhatikan Tuhan
- Manusia seharusnya peduli terhadap bumi dan menggunakan bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa merusaknya
- Memperhatiakan manusia berarti mengasihi ciptaan
- Kaum miskin dan kaum penderita, khususnya anak-anak, menderita paling parah karena kerusakan lingkungan
- Komuntias religius memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran, praksis serta pesan agar memperhatikan ciptaan dan mempersatukann pesan itu dengan umat beragama lain.

Saturday, January 06, 2007

Ramalan, Antara Persepktif Ilmiah Dan Religius


Tahun 2006 akan telah kita tinggalkan. Tahun baru 2007, kita masuki. Tentu saja dengan semangat serta harapan baru. Akino W Azzaro, serorang peramal mengatakan, situasi buruk yang terjadi tahun 2005 dan 2006, akan membaik tahun 2007. Seperti diketahui, sesuai penanggalan Cina, tahun 2004 adalah tahun Monyet Kayu, 2005 tahun Ayam Kayu, dan 2006 tahun Anjing Api, sementara tahun 2007 adalah tahun Babi Api. Tahun 2007, tahun babi api, inilah saat kita seperti babi yang merangkak lagi.

Pada umumnya ramalan di awal tahun selalu menjadi perhatian. Entah itu ramalan horoskop maupun shio. Banyak orang yang ingin mendapatkan bocoran mengenai nasib maupun hoki di tahun 2007 ini. Lainlagi bagi peramal, mengatakan ramalan ini sangat menyenangkan, sebab tidak akan ada orang yang ngambek ataupun minta ganti rugi apabila ramalannya meleset. Disamping itu dapat penghasilan tambahan dari orang yang datang untuk diramal.

Ada banyak sumber mengenai ramalan. Antara lain dari horoskop, shio, astrologi atau bahkan feng shui. Kata horoskop diserap dari bahasa Yunani, horoskopos yang berarti melihat jam. Melalui jam waktu kelahiran seseorang bisa ditentukan selainnya lambang zodiac dari orang tersebut juga bisa diramal mengenai sifat kepribadian maupun jalan hidupnya dari orang itu.

Astrologi atau ilmu perbintangan kata ini juga diserap dari bahasa Yunani, dimana berdasarkan letak posisinya dari berbagai benda langit mereka bisa meramalkan nasibnya seseorang. Astrologi sudah dikenal sejak jaman Babilonia sekitar 4.000 tahun yang lampau. Pada saat sekarang ini ada tiga macam astrologi yang cukup dikenal ialah astrologi barat, astrologi Tionghoa (shio) dan astrologi India (Iyotisha).

Astrologi Tionghoa adalah astrologi yang tertua, walaupun mereka menggunakan hewan sebagai lambang, tetapi ini tetap ada kaitannya dengan ilmu perbintangan. Lima elemen utama dari ramalan ini adalah Venus = metal (emas), Jupiter = kayu, Mercury = air, Mars = api dan Saturn = tanah. Seni ramalan yang sesungguhnya dalam astrologi Tionghoa lebih dikenal dengan sebutan Zi Wei Dou Shu (Ramalan Bintang Ungu).

Soal ramal meramal itu tentu bukan perkara gampang. Orang boleh memprediksikan waktu dan tahun yang sama maupun letak Posisi bintang yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda. Peramal satu memprediksikan bahwa tahun 2007 ini adalah tahun keberuntungan sedangkan yang lain menilai agar kita lebih mawas diri. Jadi sukar bagi kita untuk percaya kepada ramalan si A ataukah si B. Dalam istilah psikologi ini lebih dikenal dengan sebutan Barnum Efect atau Forer Efect kita otomatis bisa menerima dan mempercayai pendapat seseorang, karena dari awal mulanya kita sudah terpengaruhi.

Di Eropa pernah diadakan test untuk menguji para pakar astrologi, untuk mengetahui dimana letak posisinya ke delapan planet-planet besar, ternyata pengetahuan yang sedemikian mudah dan mendasar sekalipun juga lebih dari 70% tidak dapat mengetahuinya. Bagaimana mereka bisa menghitung dan mengartikan nasib orang lain, apabila letaknya saja sudah tidak tahu dimana ?

Berdasarkan test lainnya yang dilakukan oleh majalah Stern dari semua ramalan para astrologi yang paling top di Eropa, ternyata dari hasil keseluruhan ramalannya selama satu tahun hanya tiga persen saja yang mungkin secara kebenaran telah menjadi kenyataan alias jitu ramalannya.

Berbagai macam aliran agama menilai, bahwa ramal-meramal itu haram. Tetapi apakah anda tahu bahwa banyak orang masih percaya ramalan. Tidak bisa dipungkiri di berbagai macam majalah dan surat kabar, yang menjadi rubrik tetap dan populer adalah horoskop. Bahkan dalam diri kita, kalau kita tidak percaya akan segala macam bentuk ramalan kenapa dilain pihak kita selalu mencari hari dan waktu yang baik untuk melakukan hajatan, bukankah ini juga bisa disamakan seperti percaya akan ramalan ? Nabi Jusuf menafsirkan ramalan dari suatu impian, begitu juga banyak nabi-nabi lainnya meramal. Hanya mungkin istilah atau sebutannya saja yang berbeda kalau kita pergi ke tukang peramal ini disebut haram dan dosa.

Dinamika Perspektif Ilmiah dan Religius
Salah satu bentuk ramalan yang pernah ada dan masih dipercayai sekarang adalah Kartu Tarot. Kartu ini berasal dari Italia. Pada awalnya, permainan kartu tersebut bernama Carde da Trionfi, atau Kartu Kejayaan. Setelah mendapat pengaruh dari Prancis, nama Trionfi berubah menjadi Tarocchi.

Antoine Court de Gebelin dalam bukunya terbitan tahun 1781 menyatakan kartu Tarot dibuat oleh pendeta-pendeta Mesir kuno. Mereka kemudian membawa gambar-gambar tersebut ke Roma untuk dipersembahkan kepada Paus. Paus kemudian memperkenalkan Tarot ke Avignon, Prancis pada abad ke-14. Gereja Katolik dan pemerintah daerah di Eropa tidaklah selalu melarang permainan Tarot. Beberapa daerah bahkan memperbolehkan warganya memainkan Tarot dimana permainan kartu sejenis lainnya jelas-jelas dilarang.

Hak eksklusif karena muncul dari pimpinan Gereja tidaklah berlangsung lama. Karena pada akhir abad ke-14 seorang pengkotbah dari dari Swiss, Johannes von Rheinfelden, secara tiba-tiba menyerang perjudian dan permainan kartu. Sebagai akibat dari pernyataan ini, John I dari Castile, menerbitkan larangan bermain kartu. Bahkan tahun 1379, Bernard dari Siena memberi ceramah bahwa kartu bermain adalah hasil ciptaan Setan.

Berbicara tentang ramal-meramal tidak bisa dilupakan nama besar peramal Prancis bernama Nostradamus. Michel de Nostredamus anak pasangan Reynière de St-Rémy dan saudagar makanan Jaume de Nostredamus, yang kaya. Keluarga itu keturunan Yahudi yang telah memeluk Katolik pada 455.

Ketika berumur lima belas tahun, Nostradamus memasuki Universitas Avignon untuk mendapat sarjana. Ia belajar trivium tatabahasa, percakapan, dan logik, berbanding sukatan kemudian iaitu quadrivium geometri, arithmetik, muzik dan astronomi / astrologi. Pada 1529, beliau memasuki Montpellier untuk mempelajari bidang pengobatan.

Nostradamus kemudian beralih minat dari pengobatan ke suatu yang diluar jangakauan manusia. Mengikut kebiasaan, beliau menulis sebuah kalender pada tahun 1550, yang untuk kali pertamanya me'latin'kan namanya dari Nostradamus menjadi 'Nostradamus'. Beliau sangat terkenal dengan aneka tulisannya. Jika dikumpulkan semuanya, terdapat 6.338 ramalan (kebanyakannnya ramalan yang gagal), dan tidak kurang juga sebelas kalendar tahunan. Terdapat banyak bangsawan dan orang yang terkenal dari jauh kemudiannya mula berminat untuk menanyakan nasihat dan ramalannya.

Karena karangan ramalannya kebanyakan tidak bertarikh, Nostradamus diancam oleh kaum agama. Karangan tersebut diterbitkan sebagai buku yang bertajuk Les Propheties (ramalan), telah mendapat pelbagai reaksi apabila diterbitkan. Sebagian orang menuduh Nostradamus adalah pemuja setan, palsu atau gila. Nostradamus takut dituduh menentang agama, ia pun mengelak bahwa ramalan dan astrologi tidak termasuk dalam kategori agama. Namun ia diancam jika mengamalkan sihir untuk menyokong ramalannya. Karena argument pembelaan dan ketaatannya, Nostradamus berhubungan baik dengan pihak Gereja. Ia hanya ditahan sebentar di Marignane tahun 1561, karena menerbitkan kelender tahun 1262 tanpa ijin Uskup.

Pada malam 1 Juli, ia memberitahu sahabatnya Jean de Chavigny, "Kamu takkan mendapati saya hidup lagi menjelang matahari terbit." Keesokaan paginya Nostradamus ditemui wafat dan dimakamkan di dekat kapel Fransiskan. (yang sebagiannya kini menjadi restoran La Brocherie). Jasad Nostradamus dipindahkan ketika Revolusi Perancis ke sebuah tempat di Collégiale St-Laurent sehingga kini.

Jangan Dipertentangkan, Jangan Dikompromikan
Pelajaran berharga perjumpaan antara ramalan, astrologi, horoskop dengan iman di masa lalu memberikan kesimpulan bahwa perspektif ilmiah dan religius tak perlu dipertentangkan. Juga pertentangan antara agama dan sains dalam masalah-masalah seperti teori evolusi, realitas kuantum maupun teori genom. Karena pada dasarnya, sains dan agama merupakan dua perspektif yang berbeda dalam menjelaskan dunia dan kehidupan.

Budi Hardiman, dalam seminar The Future of Religion-Science Dialogue di Universitas Paramadina, Jakarta (13/12) mengatakan, perspektif ilmiah melihat alam sebagai dunia obyektif. Fakta-fakta tunduk pada hukum alam. Dengan menggunakan perspektif tersebut dibuat ramalan tentang peristiwa dan manipulasi teknis atas alam. Akan tetapi, manusia tidak melihat alam hanya sebagai fakta-fakta, melainkan juga sebagai dunia yang dihayati.

Adapun perspektif religius melihat alam dalam kaitan dengan kenyataan dan penghayatan eksistensial. Bukan kebenaran faktual, tetapi kebenaran transendental. Masing-masing punya kebenarannya, tetapi pada tahapan tertentu ada hubungan-hubungan. Keduanya sama penting dan bermakna.

Dia mencontohkan, bencana tsunami dari perspektif ilmiah merupakan peristiwa dalam dunia obyektif yang dapat dikalkulasi secara geologis. Di sisi lain, perspektif religius memaknai tsunami secara eksistensial dan transendental sebagai perjumpaan dengan hal-hal yang melampaui rasionalitas.

Pembedaan atas dua perspektif tersebut akan memperlihatkan bahwa sains tidak mempersoalkan kebenaran eksistensial dan transendental, seperti juga agama tidak berpretensi untuk menjadi sains yang memberikan penjelasan tentang kebenaran faktual.

Sementara itu, Hamid Parsania, Rektor Baghir Al-Ulum University, Teheran, mengatakan bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan—terutama pada abad ke-19— sains dimaknai sebagai pengetahuan yang tangible (indrawi) dan dapat dibuktikan.

Makna sains sebagai pengetahuan yang berusaha menjelaskan alam semesta dan dalam perkembangannya dituntut pula mengajarkan nilai-nilai pada masyarakat. Sains kemudian berkembang dan muncul ahli-ahli yang berpendapat bahwa sains tidak bisa lepas dari sumber- sumber lain.
Pada tahun 1988, Stephen Hawking menulis dalam bukunya A Brief History Of Time. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr A. Hadyana Pudjaatmaka dan judulnya dirubah menjadi Riwayat Sang Kala terbitan P.T. Pustaka Utama Grafiti.

Dalam bukunya itu ia menjawab pernyataan Paus dihalaman 116, sebagai berikut: “I was glad then that he did not know the subject of the talk I had just given at the conference - the possibility that space-time was finite but had no boundary, which means that it had no beginning, no moment of Creation.” Ia juga menulis di halaman 140: “So long as the universe had a beginning, we could suppose it had a creator. But if the universe is really completely self-contained, having no boundary or edge, it would have neither beginning nor end: it would simply be. What place, then, for a Creator?”

Meskipun ilmiah, namun Stephen Hawking tidak menuntut bahwa teorinya harus diterima sebagai mutlak benar. Ia menulis di halaman 11-12 sebagai berikut: Setiap teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti teori itu hanyalah suatu hipotesis; Anda tidak pernah dapat membuktikannya. Tidak peduli berapa kali hasil-hasil eksperimen cocok dengan suatu teori, Anda tidak pernah dapat merasa pasti bahwa lain kali hasil itu tidak akan berlawanan dengan teori itu. Di pihak lain Anda dapat membuktikan bahwa suatu teori itu salah dengan menemukan suatu pengamatan, bahkan satu saja sudah cukup, yang tidak cocok dengan ramalan itu. (Any physical theory is always provisional, in the sense that it is only a hypothesis: you can never prove it. No matter how many times the results of experiments agree with some theory, you can never be sure that the next time the result will not contradict the theory. On the other hand, you can disprove a theory by finding even a single observation that disagrees with the predictions of the theory)

Stephen Hawking setuju dengan filsuf Karl Popper (1902-1994) dan Sir James Jean (1877-1946), bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dibuktikan benar. Ini tentu juga berlaku bagi teori-teori ciptaan Stephen Hawking sendiri. Jadi Stephen Hawking tidak pernah mengatakan bahwa teorinya mutlak benar. Ia bahkan berpendapat bahwa teorinya tidak pernah dapat dibuktikan benar. Jadi para teolog tidak harus berkompromi dengan teori Stephen Hawking. Terlebih mengingat Stephen Hawking sendiri adalah seorang ateis dan percaya bahwa alam semesta berasal dari dentuman besar. Meskipun harus diakui bahwa Hawking sangat toleran terhadap teori kreasi atau teori penciptaan. Bagi mereka yang percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta ini di halaman 10-11 sebagai berikut: Orang masih dapat membayangkan bahwa Tuhan menciptakan jagat raya pada saat dentuman besar itu. Atau bahkan sesudahnya, hanya dengan cara sedemikian agar tampak seakan-akan sebelum itu ada dentuman besar. (One could still imagine that God created the universe at the instant of the big bang, or even afterwards in just such a way as to make it look as though there had been a big bang, ......)

Kesimpulannya, perspektif ilmiah serupa ramalan, astrologi, horoskop dengan hitung-hitungannya dan perspektif religius tak perlu dipertentangkan sekaligus jangan dikompromikan.

Roh Kudus
Alkisah, ketika tahun 1958 Paus Pius XII wafat, Kardinal Spellman memang memiliki ambisi untuk menjadi Paus. Ia pun membaca Ramalan St Malachi (Prophecies De la Succession Des Papes), yang baru diketemukan oleh Abbe Cucherat pada tahun 1590.

Berdasarkan ramalan Malachi (1094-1148), Uskup Armagh, Irlandia Utara, pengganti Pius XII ini adalah seorang Paus yang akan dikenal sebagai Pastor et Nauta (Gembala dan Pelaut). Malachi memang membuat ramalan mengenai 111 calon Paus mendatang, dimulai dari Paus Celestinus II (1143) dengan gelar simbolis.

Begitulah, menurut buku Peter Bander, The Prophecies of Malachy (1969), menjelang konklaf 1958, Kardinal Spellman kemudian menyewa sebuah kapal, mengisinya dengan domba-domba, dan berlayar mondar-mandir di Sungai Tiber, Roma. Sayang, ambisi Spellman tidak terwujud. Konklaf 1958 memilih Kardinal Roncalli dari Venesia sebagai pengganti Pius XII.

Menurut para ahli tafsir ramalan Malachi, Pastor et Nauta itu ternyata menunjuk pada laut sekeliling Venesia, tempat di mana Roncalli menjadi gembala (pastor) umat sebelum terpilih menjadi Paus dengan nama Yohanes XXIII. Pada masa kepausannya (1958-1963), Gereja memang kemudian menjadi lebih inklusif, mengakui kebenaran agama-agama lain, dan mampu menggerakkan dunia untuk memperjuangkan perdamaian tanpa batasan negara, bangsa, atau lautan.

Waktu ramalan ini ditulis oleh Malachi sekitar tahun 1139, teori Copernicus belum ada. Bumi masih dianggap sebagai pusat semesta dan matahari yang mengelilingi Bumi. Lalu, apa ciri Paus ke-265 mendatang ? Ramalan Malachi menyebutnya sebagai Gloria Olivae (Kemuliaan Zaitun). Pada umumnya, zaitun, khususnya daun zaitun, merupakan lambang perdamaian. Apakah ini berarti bahwa hasil konklaf akan menghasilkan seorang Paus yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perdamaian ? Perdamaian macam apa ? Tidak ada yang tahu.

Ramalan boleh berbicara, tetapi para kardinal yang mengikuti konklaf meyakini bahwa kerja dan tindakan mereka selama pemilihan Paus merupakan hasil dari karya Roh Kudus. Bahasa orang biasa, semuanya harus dilakukan setelah melalui keheningan doa kepada Yang Ilahi. Oleh karena itu, sudah menjadi tradisi ketika konklaf berlangsung, semua orang Katolik diminta untuk berdoa, melepaskan segala analisis dan hitungan matematika manusia. Lupakan segala primordialisme manusiawi. Berpasrahlah dan biarlah Roh itu mengalir bebas.

Kitab Suci Dan Ajaran Gereja
Kita ingat bahwa perintah Allah yang pertama mengatakan, “Akulah TUHAN, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ketika ditanya hukum manakah yang terutama, Tuhan kita Yesus Kristus, dengan mengulang perintah yang ada dalam Kitab Ulangan, mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37). Sementara Tuhan, menurut kehendak-Nya, dapat mewahyukan masa depan kepada para nabi atau para kudus, kita sebagai pribadi wajib senantiasa percaya akan penyelenggaraan ilahi-Nya.

St Paulus mengingatkan kita, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Mungkin terkadang kita juga memiliki rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, namun demikian kita mengandalkan hidup kita pada Tuhan, percaya penuh akan kasih sayang dan pemeliharaan-Nya.

Berusaha mengetahui masa depan dengan membaca tangan, kartu ramal, atau bentuk-bentuk ramalan lainnya, atau berusaha mengendalikan masa depan melalui black magic, ilmu gaib atau sihir, merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah yang pertama.

Kitab Suci banyak mengutuk praktek-praktek ini: dalam Perjanjian Lama kita dapati, “Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup” (Kel 22:18), “Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.” (Kel 22:20). “Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri” (Im 20:27), dan “Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN….” (Ul 18:10-12).

Perjanjian Baru juga membicarakan masalah ini: Dalam Kisah Para Rasul, di Filipi St Paulus bertemu dengan seorang hamba perempuan “yang mempunyai roh tenung” yang mendapatkan penghasilan besar dengan tenungan-tenungannya. St Paulus membebaskannya dari roh jahat itu (Kis 16:16 dst). Dalam ayat-ayat lain, kita dapati kutukan-kutukan terhadap sihir dan praktek-praktek gaib pada umumnya. St Paulus mengutuk seorang tukang sihir (Gal 5:20). Dalam Kisah Para Rasul, St Paulus mencela Elimas, tukang sihir, dan menyebutnya sebagai “anak Iblis, engkau musuh segala kebenaran” (Kis 13:8 dst). St Petrus mengecam Simon, si tukang sihir, yang bermaksud membeli kuasa Roh Kudus guna menjadikan diri lebih berkuasa (Kis 8:9 dst). Dalam Kitab Wahyu, Yesus memaklumkan, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua” (Why 21:8).

Katekismus Gereja Katolik dalam menjelaskan perintah Allah yang pertama, mengulang kutukan terhadap praktek ramalan, “Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat `membuka tabir' masa depan. Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah” (No. 2116). Segala praktek dengan mempergunakan kuasa-kuasa gaib dikutuk karena bertentangan dengan agama yang benar dan biasanya dianggap sebagai dosa berat. Segala bentuk permohonan kepada setan jelas merupakan dosa berat.

Sekedar membaca horoskop di koran karena iseng bukanlah dosa berat. Tetapi menganggapnya serius, meyakini ramalan, lalu melupakan Allah, meninggalkan Allah, tidak percaya lagi kepada Allah, tidak mengandalkan kekuatan dan pertolongan Allah, tidak berdoa, tidak ke Gereja, tidak mendapatkan Sakramen, bukan sikap orang beriman yang baik. (A. Luluk Widyawan, Pr, dari berbagai sumber)